Cerpen Karya Siswa

Tanggal: Kamis / 04 Januari 2018
cerpen-karya-siswa-

                                                                                                                          Elisa

                                                                                                                 (Oleh: Fathul Huda)

            Namaku Elisa aku biasa dipanggil Elsa. Aku berumur 16 tahun, tapi aku tidak yakin akan hidup lebih lama lagi. Penyakit kanker otak yang terus menggerogotiku membuat aku putus asa dalam menjalani hidup. “selamat pagi kak elsa!”, terdengar suara itu, suara yang nyaring. Suara yang aku benci, suara yang tak ingin ku dengar di dunia ini, itu suara adikku Hana. Entah mengapa aku membencinya, aku merasa iri padanya. Karena dia lebih sempurna dariku, lebih cantik dariku, lebih hebat dariku. “Hana mengapa kamu ke kamar kakak? Sana keluar!”, kataku dengan nada membentak. “maaf kak, Hana Cuma ingin ngomong , 4 hari lagi Hana ulang tahun. Kakak jangan lupa ya!”, katanya sambil menunduk. “iya kakak tau, dah sana keluar!”, sambil aku beranjak dari tempat tidur dan kudorong ia, sampai jatuh keluar kamar. “maaf kak.”, katanya sambil menangis. Langsung aku tutup pintu kamarku dengan cepatnya hingga menimbulkan suara yang mengagetkan. Dan pada saat itu pula, datang ayahku dan menghampiri adikku. Aku tau aku salah. Aku tau aku jahat. Taoi inilah aku seorang remaja yang penuh dengan kebencian terhadap dunia ini dan adikku sendiri.

            Jam sudah menunjukkan pukul 18:15. Jam makan malampun tiba, dimana aku dan seluruh keluargaku dapat berkumpul bersama. Terlihat senyuman adikku yang ditujukan padaku, namun aku tak meresponnya. “ayo elsa, kamu harus makan yang banyak supaya cepat sembuh!”, kata ibu sambil menaruh secentong nasi di piringku. Akupun mulai memakan. Selang beberapa menit aku makan, aku merasakan pandanganku kabur. Kepalaku terasa berat dan tubuhku sangat lemas. Kurasakan saat itu pula aku terjatuh dari tempat dudukku.

            Akupun terbangun dan kulihat cahaya lampu yang terang , dan tempat asing bagiku. “elisa kamu sudah sadar nak!”, terdengar suara ibuku menangis, dan saat itu pula beliau memelukku erat. “elisa setelah kamu dirawat disini, inu akan membahagiakanmu nak!”, kata ibuku. “ibu, ibu kenapa?”, tanyaku bingung. Pada saat itu pula aku menyadari bahwa diriku ada di rumah sakit.

            Dua hari telah berlalu. Akupun keluar dari rumah sakit. Entah mengapa seakan-akan hari ini hanya dikhususkan untukku. Aku dan keluargaku mengunjungi beberapa tempat rekreasi. Bercanda tawa bersama. Bersenang-senang bersama. Jam menunjukkan pukul 16:30. Waktunya aku dan keluargaku pulang. “Tiiiiiinnnnnn...”, terdengar suara klakson mobil, saatku menyaberang. “awas kak!”, terdengar suara adikku. Kurasakan dorongan di punggungku. Dan saat itu pula aku terjatuh tersungkur. Kemudian aku menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Kulihat hana adikku telah bersimbahdarah. “Hanaa,,,!”, teriak ibuku. Tanpa sadar aku merasakan air mataku mulai berjatuhan.aku mulai bangkit dan mendekatinya. Aku sama sekali tidak percaya kenapa ia melakukan nya? Kenapaia melakukannya? “hanaa!”,teriakku.

            Malampun tiba, ana belum juga keluar dari ruang UGD. Aku yang terlalu memutuskan untuk membaringkan tubuhku di kursi. Pada saat itu pula, aku ayahku sambil menuntun ibuku yang sedang menangis. Akupun berpura-pura tertidur, karena aku bingung ingin berkata apa kepada kedua orang tuaku. Ibuku datang dan duduk di sampingku sambil mengelus-elus rambutku yang sudah mulai rontok.. “ayah, ibu takut kalau kita kehilangan kedua anak kita pah.”, kata ibuku sabil menangis. “hus..! ibu ini ngomong apa? Kita harus kuat!”, respond ayahku. “tapi pah, anak kita elisa sudah divonis akan meninggal dunia dua hari lagi, dan hana mengalami kerusakan pada jantungnya kerena benturan di dadanya, sehingga detak jantungnya melemah. Dan kita harus mencari pendonor! Bagaimana ini pah?”, keluh ibuku. Aku sangat terkejut mendengar kata ibuku dan akupun memutuskan untuk membuka mataku. “elsa kamu sudah bangun?”, tanya ibuku sambil mengusap air matanya. “mah, pah, bisakah elsa mendonorkan jantung elsa?”, kataku. “huss, elsa kamu ini ngomong apa? Udah ayo tidur lagi sayang!”, pinta ibuku. “enggak ma, elsa sudah tau semuanya, pah mah , elsa mohon kabulkanlah permintaan elisa ini, inilah permintaan terakhir elisa yang membuat elisa bahagia. Inilah cara elisa membalas semua kesalahan elisa. Elisa mohon ma, pa.” Pibta ku. Ibu dan ayahkupun langsung memelukku dengan erat, tangisan ini adalah tangisan terindah dalam hidupku.

            Hari di mana aku akan meninggalkan dunia inipun datang, dimana ayak dan ibuku berada di sampingku dan menggenggam erat telapak tanganku. Di situ aku juga bahagia karena kekasih hatiku alex, berada ikut menemaniku. Aku tidak akan pernah lupadengan senyumdan kaca mata tebal milik alex.

            Akupun melihat ke arah adikku hana, yang tertidur pulas disampingku. Dan aku meninggalkan ucapan tulus untuk yang terakhir kalinya meskipun dia tertidur, “Hana, maafkan lalal ya hana. Kakak selalu jahat terhadap kamu. Tapi kamu selalu tersenyum di depan kakak. Oiya, hana hari ini adalah ulang tahunmu anggaplah ini sebagai hadiah ulang tahunmu, dari kakak untukmu. Teruslah gapai cita-citamu! Setelah kakak di alam sana, nanti kakak akan selalu berbisik kepada tuhan, agar selalu memberikannmu kesuksesan dan kebahagiaan. Selamat tinggal Hana kakak menyayangimu.”.