MEMBENTUK STRIKE FORCE TINGKAT DESA

Tanggal: Kamis / 04 Januari 2018
membentuk-strike-force-tingkat-desa

MEMBENTUK STRIKE FORCE TINGKAT DESA

Oleh : Suci (Kelas XII IPA)

Indonesia memiliki problematika pada generasi muda, yaitu merajalelanya narkoba dikalangan remaja.Dari data BNN,tingkat penyalahgunaan narkoba terbesar adalah pelajar SLTA disusul pelajar SLTP. Artinya usia tersebut ialah usia produktif merupakan sasaran yang empuk. Pada awalnya pelajar yang mengkonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok, karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar dikalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah pergaulan terus meningkat,apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang–orang yang mengkonsumsi narkoba.Awalnya hanya sekedar mencoba kemudian mengalami ketagihan.

Perlu diketahui bahwa Indonesia menjadi negara ke-enam sebagai tingkatkonsumsi narkoba terbesar di dunia. Hal ini menandakan bahwa narkoba merupakan masalah bagi kelangsungan hidup masyarakat,bangsa,dan negara untuk menuju kehidupan yang aman,makmur,sejahtera. Untuk itu kita harus mengenal apa itu narkoba? Narkoba singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan zat aditif yang berbahaya dan dapat menimbulkan kecanduan.

Narkoba atau zat adiktif merupakan zat yang berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh, karena akan mempengaruhi tubuh,terutama susunan syaraf pusat yang dapat menyebabkan gangguan fisik, jiwa, dan kehidupan sosial. Selain berdampak pada fisik pengguna narkoba,juga akan berdampak besar pada kemajuan bangsa ini. Seandainya hal ini terus dibiarkan maka bukan tidak mungkin Indonesia kedepannya akan menjadi negara yag memiliki predikat surga narkotika dunia.

Untuk itu kita perlu tahu jenis-jenis narkoba, diantaranya adalah Opiate, Morfin, Heroin, Ganja, Lsd, Kokain, Amfetamin, Sabu, Analgesic, Alcohol, Inhalunsia, Dan Lem. Menurut kabid pembinaan dan pencegahan badan narkotika provinsi Sumatra utara, arifin sianipar, dari jumlah tersebut 39% jenis ganja, anfetamin, dan lem. Hal tersebut mempertegas indikasi bahwa narkoba obat tidak hanya digunakan oleh kaum proletar yang memiliki dana besar untuk mendapatkannya. Sebab bagi siswa smp sekalipun untuk membeli sekaleng lem cukup dengan menyisihkan uang jajan yang diberikan orang tuanya.

Kemudian kita juga perlu tahu gejala-gejala bagi pengguna narkoba, diantaranya adalah emosi yang tidak terkendali, cenderung menutup diri, mempunyai kepribadian ganda, mata sayu, wajah pucat, berat badan turun, dan tubuh lemas. Hanya sebagian kecil yang berani menyatakan dirinya sebagai pengguna narkoba dan berusaha mengakhiri ketergantungan akan obat-obatan terlarang tersebut.

Mengetahui alat-alat yang biasa digunakan untuk memakai narkoba juga sangat penting, ketika kita melihat maka tugas kita memusnakan alat tersebut, dengan begitu kita sudah ikut membantu dalam pencegahan narkoba. Misalnya, ganja digunakan dengan cara dilinting seperti rokok tetapi dengan lintingan kecil-kecil, atau dibuat menyerupai pil yang tidak familiar dilingkungan keluarga. Sabu digunakan dengan alat seperti ceret dengan bentuk transparan dan terdapat sedotan.

Meskipun pada pasal 7 uu no. 35 tahun 2009 tentang narkotika(UU Narkotika) menyatakan bahwa, Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun pasal 6 ayat 1 sebelumnya menggolongkan Narkotika kedalam golongan 1, golongan 2, dan golongan 3, yang kemudian di jabarkan pada pasal 6 ayat 1 UU narkotika yaitu, golongan 1 adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Narkotika golongan ke dua yaitu, narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir yang dapat digunakan dalam terapi dan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Sedangkan narkotika golongan 3 adalah narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan terapi dan untuk tujuan pengembangan.

Sedangkan menurut para ahli kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi, atau obat –obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahgunakan akibat pemakaian yang telah diliar bata dosis. Hngga kini penyebaran narkoba sudah hamper seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapatkan narkoba dari oknum–oknum yang tidak betabggungjawab. Bayangkan saja hasil survai badan narkotika nasional(BNN) menyebutkan , prevalensi penyalahgunaan narkoba dilingkungan pelajar mencapai 4,7 persen dari jumlah pelajar dan mahasiswa di Indonesia atau sekitar 921.695 orang. Angka ini tidak bisa ditolerir lagi.

Saat ini penggunaan narkoba dikalangan remaja sudah pada tahap yang sangat memprihatinkan. Jika hal itu dibiarkan akan menggangu prestasi belajar siswa yang mengonsumsi narkoba, yang akibatnya tidak konsentrasi dalam pelajaran, sealau gelisah, sehingga prestasi siswa pecandu narkoba juga menurun. Agar hal itu tidak terjadi, maka kita perlu mengetahui faktor – faktor yang menjadi pendukung terjadinya penyalahgunaan narkoba diantaranya keluarga, sekolah, internet.

Dalam keluarga peran orang tua sangatlah penting, karena orang tua merupakan lapisan pertama untuk mencegah seorang anak dari bahya penggunaan narkoba, tetapi terkadang hal trsebut tidak berjalan efektif, sehingga anak lepas dari pengawsa orang tua dan berujung pada pergaulan bebas. Selain itu, adanya permasalahan di dalam juga mendorong untuk trjadinya penyalahgunaan narkoba, karena kurangnya kasih sayang anak dari orang tua. Contohnya, keluarga yang brokenhome, orang tuan yang represif, orang tua yang sibuk kerja

Di lingkungan sekolah, yang paling berwenang yaitu seorang guru dan pihak sekolah tersebut, mungkin dengan membuat peraturan dan pengawasan lebih kepada warga sekolah misalnya, dengan melakukan tes urine sebelum menerima pesrta didik baru saat pendaftran agar tidak trjadi penyalahgunaan narkoba dikalangan pelajar pada lingkungan sekolah.

Internet, pengedar narkoba memiliki banyak cara dalam melakukan transaksi barang haram. Mayoritas narkoba di Indonesia diimpor dari luar negeri. Malaysia, adalah pemasok terbesar narkoba ke Indonesia, selain negara Afrika Thailand, Vietnam, dan masih banyak negara lain yang menjadi produsen narkoba bagi negara ini. Melaui intelejen BNN, disimpulkan bahwa pengedar narkoba Internasonal via internet biasanya kerap menggunakan kode atau sandi tertentu untuk melakukan transaksi.

Selain melalui jalur udara, penyelundupan juga sering melalui jalur-jalur perbatasan seperti Nunukan dan Etikong dan jalur laut melalui Batam, Belawan, dan Aceh. Para kurir nekat untuk menelan barang haram tersebut untuk disembunyikan ke dalam perut agar tidak tertangkap oleh petugas. Atau dengan cara lain menyimpannya di dalam benda –benda yang tidak dicurigai petugas. Bagi para kurir yang lolos dari pemeriksan petugas, tinggal bagaimana cara mereka mengemas barang tersebut sedemikian rupa untuk segera dijual kepada pemesan tanpa harus diketahui olrh aparat kepolisian.

Pemerintah harus lebih produktif dalam penangan secara kelembagaan peredran narkoba di Indonesia, sebab perlahan cra yang digunakan oleh pengedar narkoba juga semakin canggih dan terorganisir. Oleh sebab itu, peran aktif pemerintah dan petugas yang berwenang harus lebih ditingkatkan demi memelihara kondusifitas anak bangsa agar agar tidak terkontaminasi narkoba.

Di indonesia sendiri sudah ada lembaga khusus untuk menangani kasus ini yaitu BNN yang bekerjasama dengan Polri, sebagaimana yang sudah diatur dalam pasal 81 UU nomor 35 tahun 2009 bahwa kedua lembaga ini memiliki wewenang yang sama dalam melakuka penyidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika. Bedanya BNN hanya menyidik kejahatan narkotika dan prekursor narkotika, sedangkan polri menyidik semua jenis kejahatan narkotika dan prekursor narkotika.

Konsekuensi dari tugas dan wewenang penyidik BNN adalah menyiapkan sumber daya manusia penyidik BNN, sarana dan prasarana penyidikan dan mekanisme kerjasama antra penyidik BNN dan penyidik Polri atau dengan penyidik lainnya. Lembaga yang semula hanya sebagai lembaga nonstruktural yang bersifat koordinatif, maka secara organi tidak memiliki tenga penyidik yang khusus. BNN hanya menfasilitasi dan membentuk satuan tugas yang sebenarnya dapat dikatakan sebagai perpanjangan tangan direktorat IV narkoba Baleskrim Polri.

Oleh karena itu, alangkah baiknya pemerintah membuat pasukan khusus yang bisa disebut dengan strike force. Pencegahan dari penyalahgunaan narkoba, terkait dengan tema “peran parlemen dari DPR dalam penyalahgunaan narkoba”. Bahwa DPR RI sendiri memiliki fungsi diantaranya :

Fungsi Legislasi dengan wewenangnya, yaitu:

  1. Menyusun program Legislasi Nasional (prolegnas)
  2. Menyusun dan membahas rancangan Undang – undang (RUU)
  3. Menerima RUU yang diajukan oleh DPD
  4. Membahas RUU yang diusulkan oleh Presiden atau DPD
  5. Menetapkan UU bersama dengan Presiden

Dari beberapa wewenang tersebut, DPR RI sudah membentuk produk hukum setingkat UU untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika. UU tersebut sudah berlaku, tetapi untuk saat ini tahap mendapatkan efek jera bagi pelaku dirasa masih kurang. Oleh karena itu, perlu ada perbaikan terhadap UU narkotika yang saat ini berlaku dengan memperberat masa hukuman dan zat- zat yang dianggap berbahaya. Selain itu, DPR RI perlu membentuk peraturan “Bahwa setiap desa perlu membentuk strike force” guna pencegahan bahaya narkoba dikalangan remaja dengan upaya penyuluhan bahaya narkoba.

Fungsi Anggaran dengan wewenangnya, yaitu:

  1. Membahas (termasuk mengubah ) RAPBN
  2. Menetapkan APBN (sumber referensi :http;//news; deti.com/berita)

Untuk menjalankan strike force DPR perlu bekerja sama dengan lembaga lain untuk melaksanakan programnya, dalam hal ini DPR bisa bekerjasama dengan BNN. Melalui fungsi penganggaran, DPR bisa memberikan dukungan berupa penambahan anggaran kepada BNN. Hal terserbut bertujuan untuk memberikan fasilitasi sarana dan prasarana sebagai penyuluh bahaya narkoba.

Fungsi Pengawasan

Melalui fungsi pengawasan, DPR dapat mengawasi berbagai lembaga negara yang bertugas untuk memberantas narkoba dengan bantuan kepolisian, kejaksaan, dan BNN. Dengan adanya funsi pengawasan dapat membantu memantau jalanya strike force di tingkat desa.

Dalam menjalankan strike force, selain adanya kerjasama antara DPR RI, Kpolisian, Kejaksaan, dan BNN, juga perlu adanya kerjasama dengan remaja desa, dan tokoh masyrakat. Anggota strike force bisa terduri dari 50 persen remaja, 15 persen DPR, 10 persen tokoh masyarakat, dan 25 persen kepolisian , kejaksaan, dan BNN. Penyuluhan ini perlu dilakukan sejak dini guna memperlambat angka pertambahan penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja,dengan memberi pengertian melalui penyuluhan. Isi dari penyuluhan bahya narkoba, diantaranya :

  1. Dampak penyalahgunaan narkoba
  2. Jenis –jenis narkoba
  3. Gejala – gejala pengguna narkoba
  4. Alat yang biasa digunakan oleh pengguna narkoba.

Oleh karena itu, perlu membentuk strike force guna memberi penyuluhan terhadap penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja harus segera dibentuk agar bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa nomor enam tingkat konsumsi narkoba terbesar di dunia dan menurunya kualitas generasi muda penerus bangsa.