SEPENGGAL KISAH DARI KOTA PERAK

Tanggal: Rabu / 07 Februari 2018
sepenggal-kisah-dari-kota-perak-

SEPENGGAL KISAH DARI KOTA PERAK                                             

(NajibNugroho)

Pagi yang cerah. Jarum jam menunjukan pukul 06.45.  Aku segera berangkat ke sekolah. Terdengar bunyi bel tanda awal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dari radius 50 m. Langkahku semakin kupercepat. Dari jauh, sosok yang tak asing bagi kami itu menunggu rombongan terakhir, sebelum pintu gerbang madrasah akan ditutup.

“ Jib, tunggu aku...!!” teriak seorang teman dari belakang.Tapi, tak kuhiraukan, aku tidak ingin terlambat. Rasanya tidak pantas kalau siswa baru 3 bulan datang terlambat. Apa kata guru piket nanti. Apalagi, hukuman-hukuman yang menurutku aneh-aneh. Mulai dari menyapu halaman sekolah, lari-lari, membuang sampah sampai ke penampuangan sampah, sampai di pukul pakai rotan.

            Sejujurnya permintaan hati, aku tidak ingin sekolah di Madrasah Aliyah Nurul Ummah. Bahkan, tidak terbersit firasat atau angan – angan sekolah kesana. Tapi Allah berkehendak lain, SMA impianku menolakku mentah-mentah.Hanya terpaut nol koma sekian, aku tereliminasi dari SMA yang kuelu-elukan sejak aku di SMP Negeri 9 Yogyakarta. Alangkah malangnya nasibku. Tapi hal tersebut tidak membuatku putus asa atau berkecil hati,  karena satu tujuanku, yaitu menuntut ilmu.

Di sekolahku kini, aku mulai mengenal Madrasah Aliyah Nurul Ummah (MANU). MANU merupakan madrasah yang mengedepankan aspek keagamaan tanpa meninggalkan pendidikan umum. Lembaga pendidikan ini bernaung di bawah Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta yang didirikan oleh KH.Ahmad Marzuki dengan pengasuh pertamanya putra beliau, yakni KH.Asyhari Marzuki. Kini, MANU berada dibawah tanggung jawab YayasanPendidikanBina Putra.

            MANUberdirisejaktahun 2001. Sejarah kelahiran MANU sampai masa pertumbuhannya cukup panjang. Awalnya, MANU hanya memiliki 2 ruangan kelas dengan 16 murid. Andai aku menjadi angkatan pertama, pasti aku tidak tahan dan pindah segera memilih sekolah yang lebih baik. Biar masih berumur 15 tahun, aku harus memikirkan nasib masa depanku. Salah satunya dengan wadah pendidikan yang kutempuh.

Tanggapan miring warga masyarakat sekitar saat melihat kondisi madrasah yang baru ini tentu ada. Dalam benak mereka mungkin bergumam, “Bagaimana mungkin mencetak lulusan yang unggul dengan keterbatasan–keterbatasan yang ada. Tapi, menurutku, justru disisnilah letak optimisme itu mulai di pendam dalam pondasi yang kuat. Founding fathers MANU yakin, semuahalbesar bermula darihal yang kecil. Tidakadasuatuhalbesartanpa adanya langkahawal. Hal tersebutmemberikandorongan kepada segenapwarga madrasah. Mulai dari  para murid, para guru dan  para karyawan, mereka bahu-membahu untuk mencapai visi dan misi MANU yaitu “Terwujudnya GENERASI MUslim yang cerDAs, Unggul, KreaTif, tAngguh dan MAndiri (GENERASI MUDA UTAMA).

            Dari bangunan yang sederhanaini,semuawargaMANU memegangprinsip       “Biarlah madrasah inikecildansederhana,tapimarilahkitatunjukanprestasikita”. Begitulah ucap Bapak Slamet Riyadi. Pesan itu turut membuatku haru. Ia termasuk Founding Father yang merasakan asam pahitnya perjuangan dan pengabdian di MANU. Tercatat beberapa tinta emas yang berhasil diraih siswa- siswi MANU pada waktu itu yaitu: mengikuti lomba debate bahasa inggris hingga sampai final, mengisi acara talk show bahasa inggris di Radio RRI dan masih banyak lagi. Aku berharap dapat seperti mereka, karena aku pun juga mempunyai impian dapat berbahasa inggris dengan lancar. Kemudian, aku dapat pergi ke London untuk menuntut ilmu seperti seorang guruku di MANU, yaitu Bapak Subejo Puji Waluyo.

            Karenaseringnyamenjuaraiberbagaimacamlomba, MANU pun mulaidilirikmasyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.Bantuan operasional, materi dan finansial berdatangan dariberbagaikalangan.MANU yang sekarangbukanlah MANU yang dulu, yang tadinyasatulantaikini menjaditigalantai.Fasilitasnyapun cukup memadai, mulaidari lab bahasa, lab computer, lab IPA, lap PAI, perpustakaan, musolla, asrama, kantin,dls.Dalam rangka untuk menunjangpengembangandiri, MANU mengadakan ekstrakulikulermulaidariekstra computer, ekstrakaligrafi, MADING, bahasainggris, dls.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

      Adanya   semua  fasilitas tersebuttidakmelemahkansemangatparasiswauntukberprestasi. Hal ini terbuktikan. Ada sebagian siswa-siswi  Madrasah AliyahNurulUmmah yang menjuarai bermacam lomba,antara lain sebagaiberikut:

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

  1.       Juara I Kompetisi Madrasah MAPEL Ekonomitahun 2012
  2.       Juara I CerdasCermatEkonomiSyariah Tingkat SMA Se-DIY tahun 2012
  3.       Peringkat Ke-4 NasionalOlimpiadeSains  Madrasah tahun  2012
  4.       Peringkat Ke-8 NasionalOlimpiadeSains Madrasah tahun 2012
  5.       Juara II MTQ WalHadistPestaSeniQur’anni Tingkat Provinsitahun 2011

Masihbanyaklagiprestasi-prestasisiswa-siswi Madrasah AliyahNurulUmmahbaikdalamtingkatkota, kabupaten, danprovinsidaritahun 2001 s/d sekarang.

            Sampaisekarang, Madrasah AliyahNurulUmmahmasihexsistuntukmewujudkantujuannegara yang terteradalamPembukaan UUD 1945 alinea Ke-4 yang berbunyi ”….mencerdaskankehidupanbangsa….”. Dalamhaliniparasiswa di didiktidak hanyadicetakmenjadisiswa yang cerdas, tapi di sisi lain MANU jugamencetakgenerasicerdasdalamberamal/berakhlak.

Diantara akhlak mahmudah itu terbuktidengan parasiswajika                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 berangkatdanpulangsekolahdilarangmelewatipekaranganwargaatau gang-gang kecil. Mereka harus melalui jalan-jalan besar, meskipun sedikit jauh. Bukan tanpa alasan, hal ini karena pekarangan tersebut bukan untuk lalu lalang banyak orang, kedua, akan mengganggu para warga yang beraktivitas atau yang sedang beristirahat.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan siswa-siswi MANU ketika melewati rumah warga sekitar. Langkah kaki harus diangkat, karena jika tidak, gesekan sepatu akan mengganggu para warga. Hal inisemata sebagai sarana penanaman budi pekerti parasiswadalam menghormatiwargalingkungan sekitar.Perkara sekecil ini sangatlah diperhatikan.

            Dari sekian banyak lulusan MANU, banyak siswa maupun siswi alumni Madrasah Aliyah Nurul Ummah diterima di perguruan tinggi negeri maupun swasta seperti UGM, UIN, UNY, UNS Solo. Ditahun2013 ini, terdapatsatu orang siswadansatu orang siswiMANU yang diterimadi universitasluarnegeriyaitu di Maroko  danYaman.

Dalam sanubari terdalam, kuberjanji “ Ya Allah, kakak- kakak kelasku sudah menggapai mimpinya masing- masing, sekarang giliranku untuk mendapatkan mimpiku sendiri,  waktunya strunggle (berjuang)!!”

            Dari bangunan yang luasnyahanya 600 M2takmenyurutkansemangatparasiswadalambelajarakademikdan non akademik. Kendati, selainmenyandang status sebagai  pelajar, merekaadalah santri PP Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Pola sikap dan hidup para siswa sekaligus santri ini dibentuk dalam kedisiplinan. Pagiharimenuntutilmu di MANU danpada sore harihinggamalamharingaji di Madrasah DiniyahNurul     Ummah (MDNU).Denganbekalduadimensi ilmutersebut, kelak lulusan MANU menjadilulusan yang siapmenghadapizamanglobalisasi, serta dapatmenjalankan dakwah agama Islam denganbaik.

***

            Suatu ketika, aku bersama seorang teman di lantai dua asrama pelajar sehabis ngaji ba’da asar, Reza namanya. Kami tiduran sambil menatap langit. Hembusan angin terasa sepoi-sepoi. Burung-burung berterbangan turut menghiasi hamparan biru semu kemerahan di angkasa.

Reza berceletuk “ Hei Jib, apa cita- citamu kelak ketika kamu  besar?”.

“Aku ingin dapat berbahasa arab dan inggris dengan lancar. Aku ingin pergi ke London dan Mesir untuk memperdalam keilmuanku,” jawabku saat itu.

Mulai dari MANUku tercinta inilah kepingan-kepingan kemampuanku mulai kurangkai. Aku yakin dapat menggapai cita-citaku di sini, di Madrasah Aliyah Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Disini aku ingin melancarkan bahasa asingku.

 I wish, I can do it.