Peradaban Islam, Peradaban Baca Tulis

Tanggal: Kamis / 15 April 2021
peradaban-islam-peradaban-baca-tulis

Oleh: Bambang H., M. Hum.*

 

Budaya baca tulis sejak dulu selalu dijadikan barometer dalam mengukur tingkat peradaban suatu bangsa, bukan tingkat kesejahteraan. Peradaban yang belum kenal budaya baca tulis biasanya dimasukkan sebagai peradaban terbelakang. Maka usaha Nabi Muhamad Saw dalam menaikkan derajat peradaban bangsa Arab yang ummi dilakukan lewat beberapa perintah baca tulis.

 

Pertama, lafazh Al-Quran yang pertama kali turun berupa kata perintah (fi'il amr); Iqra' artinya bacalah. Kedua, 70 orang kafir tawanan perang Badar pun diperintahkan untuk masing-masing dari mereka mengajar 10 kaum muslimin. Jika tidak mau, harus bayar tebusan. Ketiga, lewat program penulisan wahyu Al-Quran. Ada tim penulis wahyu yang cukup banyak anggotanya hingga 43 orang. Keempat, korespondensi Nabi SAW dengan para raja dunia di masa itu selalu lewat surat-menyurat. Bahkan, Nabi SAW punya stempel khusus yang memastikan suratnya resmi untuk surat menyurat para raja. Kelima,  setiap ada perjanjian dengan pihak lain, Nabi SAW selalu memerintahkan untuk menuliskan perjanjian itu. Misalnya Perjanjian Hudaibiyah, Piagam Madinah, termasuk juga perjanjian utang piutang dengan sesama. Sebagaimana perintah Al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya”. (Al-Baqarah : 282).

 

Sejak itulah bangsa Arab berubah menjadi bangsa paling maju di dunia. Semua ditandai dari produksi karya tulis mereka yang bagaikan gelombang Tsunami. Semakin lama jumlah karya para ulama semakin banyak dan memenuhi berbagai perpustakaan. Peradaban Islam dapat dikatakan satu-satunya peradaban di dunia ini yang paling banyak warisan dalam bentuk karya tulis. Meski pernah terjadi bencana diserbu tentara Mongol dan banyak karya ulama dibakar, bahkan sebagiannya dibuang ke sungai Tigris sehingga airnya menghitam kena noda tinta, tetap saja sisa warisan itu masih ada.

 

Ketika ratusan tahun umat Islam dijajah Barat, begitu mereka menemukan jejak karya para ulama masa lalu, karya-karya itu  mereka anggap sebagai potensi kekayaan abadi sehingga  kitab-kitab dalam bentuk manuskrip kuno itu pun mereka boyong. Menghiasi koleksi berbagai museum di London, Paris, Leiden, Roma, dan pusat-pusat peradaban Barat. Meski mereka kafir dan anti-Islam, mereka tetap memuliakan kitab karya emas para ulama. Semua tersimpan dengan rapi dan aman. Bagaimana dengan umat Islam? Di beberapa negara Arab yang memiliki perpusatakaan seperti Cairo, Alexandria, Tunisia, Al-Jazair, Maghrib, Syam, Yaman, masih tersimpan warisan manuskrip itu.

 

Pada zaman sekarang di mana perpustakaan digital kian menjamur, tak terhitung pula puluhan ribu file telah beredar di internet. Salah satu aplikasi Maktabah Syamilah menyediakan akses itu. Akan tetapi, budaya literasi dengan buku rujukan masih dapat dibilang minim. Para tokoh yang ada di tengah-tengah umat Islam masih tampak hemat dengan literasi. Jika berkait pidato, ceramah, orasi, termasuk berdebat, para tokoh tersebut rata-rata sudah menguasai, namun untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca atau diakses banyak orang masih minim. Budaya baca tulis yang pernah digaungkan oleh Nabi Muhammad SAW ternyata masih minim apresiasi. Bahkan, warisan karya ilmiah dari para ulama sepanjang 12-an abad hingga hari ini juga masih belum mendapatkan ruang untuk disebarkan.

 

Di tengah eforia semangat keislaman, ingin memajukan umat, ingin lebih unggul dari umat lain, tapi budaya literasi tidak dijadikan pengimbang. Lembaga pendidikan juga kurang dalam memberikan perhatian terhadap membangun peradaban baca tulis. Para santri dan siswa juga  kurang termotivasi untuk disiplin menulis dan rajin membaca. Hal yang berbeda jika dibanding dengan porsi hapalan.

 

*Bambang H., M. Hum, staf pengajar di MA Nurul Ummah Kotagede

ma-nurul-ummah

www.manu.sch.id, Disclaimer, Privacy. Developed By JogjaSite

Email: admin@manurulummah.com

Jalan Raden Ronggo KG II/982 Prenggan Kotagede Yogyakarta 55172. Telp. (0274) 377174