Sepenggal Kisah Perjalanan dari Kotagede ke Kairo Mesir

Tanggal: Senin / 09 Agustus 2021
sepenggal-kisah-perjalanan-dari-kotagede-ke-kairo-mesir

Oleh Riza Aulia Rahman*

 

Nama saya Riza Aulia Rahman. Saya berasal dari Kebumen Jawa Tengah. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kami dilahirkan oleh orang tua yang sederhana dan memiliki jiwa kasih sayang kuat. Keluarga kami tinggal di tempat saya dan saudara-saudara lahir, di desa Lajer, kecamatan Ambal, kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

 

Saya masuk Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede tahun 2015. Ketika itu saya masih imut-imut. Diantar orangtua dan diiringi tangisan saya sebagai seorang anak yang masih kecil akan terpisah hidup dari orangtua dan keluarga . Di situlah orangtua saya mendidik agar saya mampu belajar mandiri dan merawat hubungan pergaulan di pesantren dengan saling peduli satu sama lain. Saya belajar mengelola semua aktivitas hidup dengan kemampuan saya. Mengelola keuangan, mencuci, mempersiapkan sekolah, mengaji, jamaah, dan lain sebagainya.

 

Kelas VII atau kelas satu MTs adalah waktu yang saya tunggu-tunggu, di mana ada sedikit perbedaan dengan semasa SD. Di situ saya seperti diharuskan mulai berpikir dewasa dan belajar bertanggung jawab dengan lingkungan di mana saya tinggal. Saya memulai berorganisasi dari menjadi anggota OSIS, aktif dalam kerja-kerja kepanitiaan, hingga menjadi anggota Paskibra (pasukan pengiring bendera) sewaktu upacara. Sungguh hal demikian sangat menarik bagi saya. Menginjak jelas IX saya pernah berkeinginan bahwa setelah lulus dari MTs Nurul Ummah saya akan pulang saja, melanjutkan sekolah di dekat rumah saya di Kebumen. Namun, rupanya orangtua tidak mengizinkan. Saya sudah mengalami bagaimana kehidupan belajar selama tiga tahun hingga saya bisa lulus dari Mts Nurul Ummah. Tidak ada alasan lebih kuat lagi untuk meninggalkan Kotagede. Akhirnya saya pun kembali bulatkan tekad untuk melanjutkan studi ke Madrasah Aliyah Nurul Ummah.

 

Pertama masuk ke MANU saya harus bertemu lagi dengan orang baru. Lambat laun kami menjadi kenal satu sama lain. Pada awal kelas X itu saya mempunyai harapan untuk mempunyai hafalan Alquran karena saya ingin kuliah di Universitas al Azhar. Saya berpikir waktu itu bahwa dengan cara itulah saya ingin membahagiakan orang tua.

 

Akan tetapi, entah mengapa memasuki kelas XI, saya masuk dalam fase aktif-aktifnya dalam situasi menjadi “pelajar bandel”. Mungkin itu masa remaja yang sedang berjiwa on fire; kelebihan energi dan kesulitan mengelolanya. Hampir semua pelanggaran saya lakukan baik sendiri maupun bareng teman-teman. Mulai dari bolos pelajaran, bolos jama'ah, dan lain-lain. Lama-kelamaan akhirnya sadar bahwa saya harus belajar serius dan saya harus melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri. Mulai dari sini bayangan di kepala saya adalah bahwa saya hanya akan meneruskan kuliah di Jogja saja. Juga harus lulus diniyah pondok. Bayangan tersebut mengiringi isi kepala saya. Hingga akhirnya tiba di titik akhir kelas duabelas menjelang kelulusan, impian yang pernah saya punya sewaktu kelas X untuk kuliah di Universitas al Azhar hilang dengan sendirinya, bahkan saya lupa situasi apa kala itu yang membuat saya benar-benar melupakan impian tersebut.

 

Saya masih ingat ketika satu semester di kelas XII sudah terlalui, kegiatan sekolah saya semakin padat. Menguras otak, waktu, dan sangat melelahkan. Sekolah mulai pukul 06.45 WIB hingga 15.00 WIB, dilanjutkan dengan tambahan materi untuk Ujian Nasional hingga pukul 16.00 WIB. Setelah itu ada tambahan belajar atau les mulai pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB. Belum lagi saya harus mengerjakan soal latihan untuk UNBK maupun UTBK. UTBK adalah ujian untuk masuk perguruan tinggi di Indonesia, banyak orang belajar mati-matian untuk mendapatkan nilai yang baik agar bisa diterima saat SBMPTN kelak.

 

Suatu ketika, akun LTMPT milik saya eror. Bahkan bukan hanya milik saya saja, teman-teman yang lain juga mengalaminya. Pada saat itu saya sempat frustasi. Namun tidak lama, saya kuatkan semangat saya kembali untuk mencari dan mencoba jalur yang lain.Saya pribadi ingin masuk perguruan tinggi karena memang ingin mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dan mencari pengalaman yang kelak akan berguna untuk masa depan saya maupun bangsa. Saat itu saya harus belajar untuk ujian praktik. Mengerjakan banyak try out untuk UNBK, UMBK, USBK. Bahkan saya harus mempersiapkan diri secara mandiri untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi. Memang sulit dan melelahkan, tetapi apabila dijalani dengan serius saya yakin pasti kita bisa menjalaninya.

 

Angkatan saya adalah angkatan pertama yang terdera era pandemi Covid-19. Ujian Nasional dibatalkan persis sepekan sebelum hari-H. Jadilah angkatan saya sering disebut sebagai “angkatan Corona”, di mana tidak ada UN dan tidak ada acara perayaan kelulusan atau wisuda sebagaimana tradisi.

 

Saya mencoba diri untuk melanjutkan belajar dengan mendaftar masuk ke perguruan tinggi negeri. Semula saya ingin masuk Manajemen Dakwah. Namun gagal karena tidak lolos seleksi. Lantaran saya telah gagal mengikuti jalur SNPTN dan SBMPTN di Jogja seperti itu akhirnya saya bingung mau melanjutkan kuliah di mana lagi. Tapi di pikiran saya kala itu masih optimis bisa kuliah. Lalu saya dan teman teman mulai mencari informasi terkait pendaftaran masuk ke universitas dari yang negeri hingga swasta. Kebetulan saat itu ada pendaftaran untuk gelombang 2 di UIN Sunan Kalijaga. Saya memutuskan meminta izin orang tua dahulu apakah diperbolehkan mencoba sekali lagi mendaftar masuk ke UIN Jogja.

 

Belum sempat mendaftar gelombang 2 masuk ke UIN Jogja, saya mendengar ada pengumuman pendaftaran ke Universitas Al-Azhar. Saya tiba-tiba penasaran. Saya komunikasikan dengan orang tua dan alhamdulillah bergayung sambut saya diberi izin. Saya menghubungi alumni MANU (kakak kelas saya) yang berada di universitas itu karena lebih dulu menjadi mahasiswa di sana. Waktu semakin singkat dan pada saat situlah saya memantapkan hati lagi untuk belajar di negri kinanah tersebut. Serangkaian tes saya jalani. Saya masuk darul lughoh (kelas bahasa) selama 4 bulan. Di puncak les bahasa tersebut saua diharuskan membuat makalah berbahasa Arab. Itu adalah syarat lulus kelas bahasa. Sebuah tantangan baru dan pertama kali saya alami. Tanpa patah semangat sedikit pun, akhirnya saya berhasil dan lulus.

 

Setelah lulus kelas bahasa itu saya mulai mengurus berkas-berkas dan persyaratan kuliah di Universitas al-Azhar. Sempat terjadi masalah ketika mengurus persyaratan tersebut, namun dapat teratasi. Saya juga hampir dibatas maksimal pengumpulan berkas. Saya semapt kebingungan. Ketika saya akhirnya bisa menghubungi panitia, semua kecemasan saya sirna.

 

Bersebab waktu itu status saya masih menjadi santri PP Nurul Ummah, saya putuskan sowan memohon izin dan doa restu untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar kepada pengasuh PP Nurul Ummah yaitu KH. Ahmad Zabidi Marzuqi. Selepas sowan saya segera ke Asrama Pelajar di mana saya tinggal selama ini. Saya kemasi semua baju dan kitab (boyongan) kemudian saya pamitan dengan teman-teman dan mengajak mereka makan-makan di lapangan Karang Kotagede.

 

Di Universitas al-Azhar, saya mengambil konsentrasi di Fakultas Syariah wal Qanun jurusan Syariah Islamiyah. Kenapa saya masuk jurusan itu? Menurut saya jurusan itu sejalur dengan apa yang saya inginkan. Disiplin keilmuan komplit, mulai dari ilmu fiqih, hadis, dan masih banyak lagi. Barangkali ini akan menjadi sebuah perjalanan pertama terpanjang selama hidup saya, yakni belajar di tempat yang jauh, negeri piramida. Negara Mesir. Negeri suci tempat para salafussaleh berada.

 

Tepat 21 januari 2021 saya menapakkan kaki saya di negeri suci itu. Saya bahkan sempat tidak percaya bahwa saya benar-benar berada di Mesir. Saya dijemput oleh seorang kakak kelas manu dan saya dibawa ke rumah tempat tinggalnya, untuk tinggal bersama sampai sekarang ini. Pertama kali naik mobil di Mesir saya takut karena kebanyakan kendaraan Mesir ugal-ugalan (ngebut²an), seperti pesepeda motor yang tidak menggunakan helm menjadi pemandangan biasa. Namun menariknya, mobil di sini tidak menyalakan lampu sein tapi tidak ada atau hampir jarang terjadinya kecelakaan

 

Memulai untuk mencoba makanan mesir adalah suatu hal yang belum pernah saya lakukan selama hidup di Indonesia, mulai dari makan roti, fuul, dan lain-lain. Alhamdulillah sekarang hampir semua makanan Mesir cocok buat saya.

 

Awal masuk kuliah di ini bisa juga disebut sebagai masa-masa transisi, di mana perubahan dari masa sekolah ke kuliah perlu dilakukan penyesuaian diri. Biasanya di sekolah memakai pakaian seragam, sekarang memakai pakaian bebas tetapi tetap menjaga kesopanan dalam berpakaian. Dahulu zaman sekolah disebut siswa, kini disebut mahasiswa. Begitu juga dengan pengajarnya yang biasanya saya panggil beliau dengan sebutan bapak/ibu guru, tetapi sekarang saya memanggilnya duktur. Kesan pertama saat diajar oleh duktur, beliau terlihat lebih santai dalam memberikan materi kadang juga guyon enak pokoknya,mungkin agar para mahasiswa tidak tegang ketika sedang belajar.

 

Ohya, terakhir, kebanyakan orang Mesir ramah-ramah, banyak senyum, sering menyapa, dan menanyakan alamat asal saya. Betapa enaknya hidup di negeri piramida ini. Masyaallah.

 

*Riza Aulia Rahman, alumni Madrasah Aliyah Nurul Ummah Kotagede. Sekarang melanjutkan studi di Fakultas Syariah wal Qanun jurusan Syariah Islamiyah Universitas al-Azhar Kairo Mesir.

ma-nurul-ummah

www.manu.sch.id, Disclaimer, Privacy. Developed By JogjaSite

Email: admin@manurulummah.com

Jalan Raden Ronggo KG II/982 Prenggan Kotagede Yogyakarta 55172. Telp. (0274) 377174