Bertanya Ulang Arti Sumpah Pemuda dalam Bingkai Kekinian

Tanggal: Kamis / 28 Oktober 2021
bertanya-ulang-arti-sumpah-pemuda-dalam-bingkai-kekinian

Saban 28 Oktober ditetapkan oleh pemerintah sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Melalui laman resminya, Kemenpora RI menetapkan tema peringatan tahun ini “Bersatu, Bangkit, dan Tumbuh”. Tema tersebut kembali mengingatkan bahwa hampir satu abad silam, yakni pada tanggal 28 Oktober 1928 berlangsung sebuah perhelatan bertajuk Kongres Pemuda (di beberapa kalangan masih terdapat perbedaan pendapat apakah waktu itu telah menggunakan nama Indonesia atau belum). Sebuah penanda dari bersatunya organisasi-organisasi yang diinisiasi oleh para pemuda dari berbagai daerah yang berkumpul dan membincangkan satu cita-cita bersama. Kesadaran berskala nasional yang bertunas secara bersama-sama dan mengerucut itu menjadi titimangsa khusus dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka.

 

Peristiwa yang di kemudian hari disebut dengan Sumpah Pemuda dengan cukup tegas menyatakan kesatuannya dalam Bertanah Air Satu Tanah Air Indonesia, Berbangsa Satu Bangsa Indonesia, dan Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia. Sebuah kongres yang dihelat dalam lanskap modern sebagai sebuah bangsa, menghiasi rapat akbar tersebut. Seakan menghilangkan sekat kedaerahan, kongres tersebut menjadi tonggak sejarah paling awal dan signifikan dalam panggung sejarah, di mana memasuki awal abad 20, sebuah “komunitas yang dibayangkan” (di kemudian hari dikenal dengan nama “Indonesia”) mampu memandu gerak dunia batin masyarakat nusantara yang disatukan oleh kesamaan nasib berada dalam cengkeraman kolonialisme dan imperialisme, kesamaan tradisi, dan budaya dengan kesadaran sebagai sebuah negara bangsa yang sudah semestinya tegak di atas kaki sendiri.

 

Berbeda jika menilik ke belakang pada abad 19 dan jauh ke belakang, kehidupan masyarakat nusantara masih bersifat kedaerahan dan berlangsung dalam tahapan secara tradisional (dalam makna luas), sebagai situasi yang alami bersebab sistem sosial ditopang oleh sistem monarki-monarki kecil. Tonggak awal tahun 1908, kesadaran nasional secara perlahan tapi pasti mulai terbentuk melalui berdirinya organisasi Budi Utomo. Komunitas yang muncul dari kalangan orang-orang melek pendidikan usai bersinggungan dengan budaya politik etis kolonial ditarik garis lurus dalam manajemen gerak dan pemikiran modern. Tidak ada lagi perbedaan kewilayahan atau kedaerahan dengan ranah suku ras agama dan bahasa yang dipertentangkan, melainkan justru dipersatukan dalam bingkai sebuah negara modern, negara bangsa dengan tata pemerintahan berdasarkan sulur-sulur keilmuan politik secara modern. Politik etis ala Belanda (kolonial) memiliki sisipan yang seperti tanpa disadari merasuk ke dalam sanubari rakyat Indonesia. Sebuah impian negara merdeka telah menunggu di depan dengan perjuangan yang lebih keras. Lalu bagaimana mengemas  makna peringatan Sumpah Pemuda ke masa kiwari?

 

Zaman bergerak secepat laju angin yang lebih sering tak terjangkau oleh kemampuan manusia. Revolusi digital dengan internet sebagai penandanya, tak pelak menerbitkan sebuah zaman baru bagi kehidupan, tak terkecuali bangsa Indonesia. Pola-pola kekerabatan sebagai contoh, selama ini dikenal sebagai sesuatu yang melekat erat dalam tradisi dan pandangan hidup anak bangsa. Pola-pola yang diusung dan didukung melalui pembiasaan dan kebiasaan komunikasi intim antaranggota masyarakat. Sudah sejak kapan tidak kita sadari bahwa hal tersebut telah mampu “digantikan” oleh layar segenggaman?

 

Semangat para pemuda yang merefleksikan kecintaannya terhadap negara ini jauh sebelum keputusan bersama mengerucut, mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan serta kedaerahan tergambar penuh dalam fokus yang hanya tertuju kepada bagaimana secepatnya terbebas dari belenggu kolonialisme, bagaimana negara Indonesia harus lahir. Maka para pemuda ini dengan semangat kebangsaan yang meletup mencetuskan sebuah sumpah yang akan dikenang sepanjang sejarah sebagai cikal bakal kebangsaan Indonesia. Pertanyaan berikutnya apa yang dapat dilakukan sebagai bentuk kecintaan dan rasa kebangsaan oleh kaum muda?

 

Tak dapat dimungkiri bahwa label menjadi ‘kaum muda’ adalah sebuah idiom yang lekat akan kebanggaan dan tantangan sekaligus dalam satu tarikan napas. Sering kali disebut bahwa ‘di pundak kaum muda’-lah masa depan negeri ini diletakkan dan dititipkan. Pada periode kehidupan yang bergerak cepat seperti sekarang, posisi kaum muda menjadi sangat penting. Terlebih sekian tantangan berat yang seolah meliputi seluruh sendi hidup berbangsa dan bernegara, kini benar-benar menguji kesadaran nasional dalam skala yang lebih mendesak. Kasus-kasus korupsi yang menggerus tata sosial lantaran ia adalah sebuah kejahatan besar, faktanya masih terus saja terjadi dan dilakukan oleh mayoritas para pejabat yang berusia relatif muda. Beragam kasus hukum yang menyangkut penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang nyatanya sampai hari ini bukan semakin menurun malah kian menjadi sebagaimana kerap dilaporkan oleh media massa arus utama. Belum lagi sekian masalah serius terkait dengan revolusi media sosial yang kian massif menjadi hutan belantara dan sampah besar di dunia maya, menggerus kepribadian santun anak bangsa berkelindan dengan situasi pandemik global yang melanda dunia dan hingga hari ini belum dapat dienyahkan. Ihwal panjang tersebut menimpuk generasi muda untuk dibangkitkan kembali kesadarannya sebagai anak bangsa, memikul estafet tanggungjawab mau ke mana dan bagaimana masa depan negeri ini. “Bersatu, bangkit, dan tumbuh” sebagaimana digaungkan oleh pemerintah melalui Kemenpora hari-hari ini terasa terdengar begitu riuh dan nyaring melekat dalam sebentuk tulisan dan slogan semata, jika tidak dibarengi dengan langkah nyata menata perjuangan bersama.

 

Wallahua’lam

 

Penulis: Akhiriyati Sundari, Guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) MA Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta

ma-nurul-ummah

www.manu.sch.id, Disclaimer, Privacy. Developed By JogjaSite

Email: admin@manurulummah.com

Jalan Raden Ronggo KG II/982 Prenggan Kotagede Yogyakarta 55172. Telp. (0274) 377174