TERSENTUH

Tanggal: Senin / 13 Desember 2021
tersentuh

Mendung datang begitu cepat. Hujan menderas dalam sekelebat. Pak Guru tergopoh-gopoh menuju sekolah. Terkejar waktu mengajar yang segera dimulai. Terlambat sudah. Seperempat tubuh dan pakaian turut dipeluk basah. Menghindari sakit bersebab air hujan, lekas-lekas ia berganti baju setiba di sekolahah. Sebelum para murid semuanya masuk ke dalam kelas.

 

Mengikuti instingnya sendiri, seorang murid menyeduhkan teh ke dalam poci untuk Pak Guru tersebut, lalu menawarkan beberapa camilan pedas yang sebelumnya ia bawa untuk dirinya sendiri. Sungguh, itu cara murah meriah yang akan membuat gigi-gigi meloncat dengan gairah. Keriuk yang pas sehingga setengah toples kecil lekas tandas.

 

Menunggu jam pelajaran selesai, Pak Guru hendak menutup gorden selepas menyalakan lampu teras kelas. Apalagi suasana di luar telah gelap bersebab hujan. Namun, sesampainya di jendela, pak guru justru terdiam. Tak bergerak. Tidak juga beranjak. Bahkan gorden tak kunjung terjamah. Seperti ada sesuatu di luar sana yang membuatnya terdiam.

“Ada apa, Pak?” tanya murid ingin tahu.

“Jam pelajaran sudah mau selesai, Pak”, imbuh si murid berupaya perhatian pak guru. Tak mendapat respons. Murid menghampiri Pak guru.

“Kasihan pasti mereka kedinginan di luar sana, apa kita suruh masuk kelas kita saja ya, Nak?” Tanya Pak Guru lebih lanjut.

“Duh, jangan dong, Pak. Kita semua tahu mereka murid yang nakal”, murid perempuan menyelutuk mengingatkan. Para murid hapal betul dengan watak Pak Guru satu ini yang mudah tersentuh. Padahal, Pak Guru beberapa kali dikerjai murid-murid nakal tersebut, lantaran kebaikan hatinya. Meski begitu, Pak Guru ini seperti naif, terus saja menganggap setiap murid itu dasarnya adalah orang baik. Hanya saja karena terdesak keadaan. Seseorang meminggirkan sementara sifat baiknya.

 

“Kejahatan atau keburukan orang lain tidak sepatutnya menjadikan kita enggan berbuat kebaikan. Begitu pun ketidakpedulian orang lain, tidak semestinya membuat empati kita redup, Nak”

Pak guru beranjak menuju mejanya. Ia menuangkan teh hangat dari poci ke termos. Ia kemudian menumpahkan camilan dalam toples tadi ke dalam sebuah plastik. Lalu keduanya diangkat dengan baki.

“Mau Bapak bawa ke mana itu?” kalimat seorang murid menghentikan langkah kaki Pak Guru.

“Mau Bapak kasih ke murid yang sedang dihukum di luar. Semoga saja bisa sedikit menghangatkan badannya”, sahut Pak Guru menyambung langkahnya.

“Sebentar, Pak! Tunggu dulu, Pak. Saya punya bolu pandan di tas saya”, seorang murid melontarkan penawaran, sekaligus bergegas menuju tasnya, mengambil bolu pandannya.

 

Tak berselang lama, ia telah menjajari langkah Pak Guru. Memberikan sekadar pereda hawa dingin untuk beberapa murid di luar yang kedinginan karena hukuman yang diterimanya. Selang kejadian itu, para murid yang dihukum tersebut akhirnya jadi tersentuh dan meminta maaf kepada Pak Guru ini karena sering tidak menurut, bahkan tak jarang malah memanfaatkannya.

Begitulah kasih sayang guru terhadap muridnya. Tanpa memilih kepada siapa ia sayang dan bagaimana kelakuan murid tersebut.

 

MANUKREATIF01: Cerita Pendek

Karya:

ma-nurul-ummah

www.manu.sch.id, Disclaimer, Privacy. Developed By JogjaSite

Email: admin@manurulummah.com

Jalan Raden Ronggo KG II/982 Prenggan Kotagede Yogyakarta 55172. Telp. (0274) 377174